Dalam rangka peringatan satu tahun Kepemimpinan Bapak Ali Mazi dan Bapak Lukman Abunawas sebagai Gubernur dan wakil Gubernur Provinsi Sulawesi Tenggara, beberapa organisasi mahasiswa dan pemuda yang tergabung dalam Front Marhaenis Sultra (Gerakan Pemuda Marhaenis, Pemuda Demokrat dan Rumah Literasi Marhaenis) akan melakukan aksi massa di Kantor DPRD Provinsi Sulawesi Tenggara (5/9/2019).
Front Marhaenis Sultra menilai, ada
beberapa kebijakan yang saat ini dikerjakan oleh Gubernur Sulawesi Tenggara
sama sekali tidak menyentuh dan tidak memberikan kesejahteraan kesejahteraan
masyarakat Sulawesi Tenggara pada umumnya. Olehnya itu, momentum satu tahun
kepemimpinan Gubernur Sulawesi Tenggara mesti di evaluasi. Hal tersebut
disampaikan oleh koordinator aksi, Bung Musrivin saat ditemui usai rapat teknis
lapangan persiapan aksi besok.
“Sejak dilantik di tahun 2018 sampai tahun 2019 ini, Gubernur dan Wakil Gubernur Sultra membuat beberapa kebijakan yang sangat tidak menyentuh persoalan kerakyatan, padahal pada saat berkampanye dan memaparkan visi misinya saat menjadi Cagub dan Cawagub kemarin, Pak Ali Mazi dan Lukman Abunawas akan memprioritaskan kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Sulawesi Tenggara” Ungkap Musrivin (4/9/2019).
Bung Musrivin
Gubernur dan Wakil Gubernur
Sulawesi Tenggra dalam menjalankan roda pemerintahan selama kurang lebih dari 1
(satu) tahun, ada beberapa kebijakan dan pembangunan daerah yang nantinya
menghabiskan dana/anggaran baik dari APBD/APBDP tahun 2019 itu dinilai tidak
memberikan asas dan manfaat untuk daerah Sulawesi Tenggara.
“Hari ini, Pak Ali Mazi sedang
melakukan komunikasi dengan berbagai pihak untuk mendukung beberapa
pembangunannya yang kami anggap itu akan menghabiskan anggaran miliaran dan
bahkan triliunan rupiah, dan itu menjadi beban daerah dan akan menjadi beban
masyarakat Sultra pula tentunya” Tambah Musrivin.
Olehnya itu, berdasarkan hasil
kajian dan diskusi di Front Marhaenis Sultra akan menggelar aksi damai yang
akan dilaksanakan besok, hari Kamis tanggal 5 September 2019 di Kantor DPRD
Sultra.
“Besok kami akan turun demo di DPRD Provinsi, karena disana ada wakil kami yang dipercayakan bisa memberikan dan kebijakan penuh terkait beberapa hal kebijakan Gubernur yang kami anggap tidak vital dan urgen. Besok juga adalah aksi damai dan perdana, ini kami target untuk aksi berkelanjutan sampai Gubernur mempertimbangkan dan membatalkan semua yang beliau usulkan di DPRD Provinsi itu” Tutup Musrivin.
Momentum Peringatan HUT RI yang Ke-74 tahun 2019, Front Marhaenis Kendari yang terdiri dari Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI), Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM), Pemuda Demokrat Indonesia (Pemuda Demokrat) dan Rumah Literasi Marhaenis (RLM) sukses menggelar dialog kebangsaan peringatan HUT RI ke-74 pada hari Sabtu, 31 Agustus 2019 yang bertempat di Aula Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Halu Oleo, Kota Kendari.
Para Narasumber Dialog Kebangsaan Front Marhaenis Kendari
Dalam sambutan
panitia, Bung Afan mengatakan bahwa dialog kebangsaan ini bertujuan untuk melihat
dan mengingat kembali sejarah perjuangan para tokoh-tokoh bangsa dalam merebut
dan memerdekakan bangsa Indonesia dari tangan penjajah saat itu dan bagaimana
para pemuda saat ini mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia.
“Momentum kali ini, tema dialog sengaja kami mengangkat revitalisasi nilai nasionalisme dan patriot pemuda sebagai bahan refleksi kita sebagai organisasi kemahasiswaan dan kepemudaan untuk mengetahui perjalanan panjang para founding father dan founding mather dalam merebut kemerdekaan Indonesia, sehingga generasi masa kini itu dapat memetik hasil perjuangan mereka semua” Ungkap Bung Afan, Panitia Pelaksana.
Di acara tersebut,
hadir para narasumber yakni Dr. Akhmad Marhadi, M.Si sebagai Dekan FIB UHO
sekaligus sebagai ketua PW Ikatan Sarjana Nahdlatul Ulama (ISNU) Sultra, Bung
Irfan Ido, M.Si dari Akademisi/Dosen UHO sekaligus sebagai Alumni Gerakan Mahasiswa
Nasional Indonesia (GMNI) Kota Kendari, utusan Polda Sultra, dan perwakilan
dari Dandrem 143/HO Kendari.
Ditemui disela-sela
kegiatan, Bung Afan mengatakan sangat merasa bangga dan berterima kasih banyak
kepada semua pihak yang hadir dalam acara ini, terkhusus kepada panitia yang
telah bersusah payah bekerja maksimal menyukseskan kegiatan ini.
“Untuk panitia, saya ucapkan banyak terimakasih atas kerjasamanya dalam suksesnya kegiatan kali ini, juga terimakasih kepada para narasumber dan tamu undangan yang telah meluangkan waktunya hadir disini” Tambah Bung Afan.
Untuk diketahui,
ratusan peserta hadir dalam acara ini yang terdiri berbagai organisasi
kemahasiswaan dan kepemudaan se-Kota Kendari, antara lain dari organisasi
mahasiswa yang tergabung dalam Cipayung Plus Kendari (GMKI, PMKRI, PMII, HMI,
LMND), pimpinan lembaga kemahasiswaan
Universitas dalam hal ini BEM-BEM Kampus se-Kota Kendari, serta KNPI Kota
Kendari, GMKM, Himpunan Mahasiswa Konsel & dan SAPMA Pemuda Pancasila.
Keluarga Besar Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kendari berkunjung di Markas Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara, (Selasa 27/8/2019) dalam hal menyampaikan bela sungkawa atas wafatnya anggota bhayangkara POLRI Ipda Erwin Yudha Wildani yang terkena lemparaan bensin saat mengamankan dan mengawal jalannya aksi massa yang dilakukan oleh mahasiswa Cipayung Plus Cianjur, Jawa Barat . Diberitakan bahwa sebelum wafat, Ipda Erwin Yuda Wildani sempat melewati masa perawatan di RS. Kramat Jati dan RSP. Pertamina.
Keluarga Besar DPC GMNI Kendari saat berkunjung di Polda Sultra
Kunjungan Keluarga Besar DPC GMNI Kendari di POLDA SULTRA di wakili secara langsung oleh Bung Abdul Wahab sebagai Ketua DPC GMNI Kendari, Bung Firman Menui (Kabid Litbang), Bung Ariono (Ketua Komisariat FISIP UHO), Bung Haidir Ali (Ketua Komisariat FIB UHO), Bung Kim Adi (Ketua Komisariat UNSULTRA), Sarinah Ririn (Ketua Komisariat Pertanian UHO), Bung Irfan (Kader GMNI FISIP UHO) dan Bung Zulzaman sebagai Mantan Ketua DPC GMNI Kendari Periode 2015-2018.
Pertemuan
dengan pihak kepolisian, dalam hal ini Polda Sultra diwakili langsung oleh Bidang
Humas Polda Sultra yang bertempat di Media Centre Bidang Humas Polda Sultra. Dalam
pertemuan ini, DPC GMNI Kendari menyatakan sangat berduka cita serta berbela
sungkawa atas meninggalnya salah satu anggota POLRI saat mengamankan jalannya
aksi mahasiswa di Cianjur, Jawa Barat.
“Kami dari Keluarga Besar Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Kendari turut berbelasungkawa yang dalam atas wafatnya Ipda Erwin Yuda Wildani setelah melaksanakan tugas dan mengalami kebakaran dalam pengamanan aksi massa mahasiswa Cipayung Plus di Kabupaten Cianjur, juga kami meminta maaf yang sebesar-besarnya dan sedalam-dalamnya kepada keluarga Ipda Erwin Yudha Wildani, keluarga besar POLRI atas segala sikap dan tindakan mahasiswa tersebut terkhusus adanya anggota dari GMNI yang diduga telah terlibat baik secara langsung maupun tidak langsung melakukan perbuatan kriminal ataupun pidana sehingga mengakibatkan berpulangnya Ipda Erwin kepada pangkuan Tuhan Yang Maha Esa”. Ungkap Bung Abdul Wahab, Ketua DPC GMNI Kendari.
Bung
Abdul Wahab juga menyampaikan bahwa tindakan kriminal yang dilakukan oknum
anggota GMNI yang mengakibatkan meninggalnya salah satu anggota Kepolisian
dalam melaksanakan tugas pengamanan aksi mahasiswa tersebut merupakan tindakan
yang tidak terencana secara organisasi GMNI.
“Kejadian di lapangan itu spontanitas oknum kami secara tiba-tiba dan tidak terencana, itu juga bukan merupakan watak, sikap, ciri dan karakter kami yang ada di organisasi GMNI” Tambahnya.
Olehnya
itu, Bung Abdul Wahab juga menyampaikan bahwa GMNI dan Kepolisian sebagai mitra
kerja di masyarakat agar senantiasa terus menjaga sinergitas yang baik
khususnya di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara.
“Mudah-mudahan apa yang terjadi di Kabupaten Cianjur, Jawa Barat tidak terulang kembali di bangsa ini, kita semua mengambil hikmah atas kejadian ini serta menjadi perenungan bagi kita semua dan khususnya untuk kader dan anggota GMNI di Kendari” Tutupnya.
Di dalam salah satu rapat umum saya pernah berkata, bahwa kita bukan sahaja harus menentang kapitalisme asing, tetapi harus juga menentang kapitalisme bangsa sendiri. Hal ini telah mendapat pembicaraan di dalam pers, dan sayapun mendapat beberapa surat yang minta hal ini diterangkan sekali lagi dengan singkat.
Dengan segala senang hati saya memenuhi
permintaan-permintaan itu. Sebab soal ini adalah soal yang mengenai beginsel.
Beginsel, yang harus dan musti kita perhatikan, jikalau kita mengabdi kepada
rakyat dengan sebenar-benarnya, dan ingin membawa rakyat itu ke arah
keselamatan.
Supaya buat pembaca soal ini menjadi terang, dan
supaya pembicaraan kita bisa tajam garis-garisnya, maka perlulah lebih dulu
kita menjawab pertanyaan:
Apakah
kapitalisme itu?
Di dalam saya punya buku-pembelaan saya pernah
menjawab: “Kapitalisme adalah stelsel pergaulan-hidup, yang timbul
daripada cara produksi yang memisahkan kaum-buruh dari alat-alat-produksi.
Kapitalisme adalah timbul dari ini cara-produksi, yang oleh karenanya, menjadi
sebabnya meerwaarde tidak jatuh di dalam tangannya kaum buruh melainkan jatuh
di dalam tangannya kaum majikan. Kapitalisme, oleh karenanya pula, adalah
menyebabkan kapitaal-accumulatie, kapitaal-concentratie, kapitaal-centralisatie,
dan industrieel reserve-armee. Kapitalisme mempunyai arah kepada
Verelendung”, yakni menyebarkan kesengsaraan.
Itulah kapitalisme! – yang prakteknya kita bisa
lihat di seluruh dunia. Itulah kapitalisme, yang ternyata menyebarkan kesengsaraan,
kepapaan, pengangguran, balapan-tarif, peperangan, kematian, – pendek kata
menyebabkan rusaknya susunan-dunia yang sekarang ini. Itulah kapitalisme yang
melahirkan modern-imperialisme, yang membikin kita dan hampir seluruh
bangsa-berwarna menjadi rakyat yang cilaka!
Siapa di
dalam beginsel tidak anti kepada stelsel yang demikian itu, adalah menutupkan
mata buat kejahatan-kejahatan kapitalisme yang sudah senyata-nyatanya itu.
Tiap-tiap orang, yang mempunyai beginsel yang logis, haruslah anti kepada
stelsel itu. Sebab, – sekali lagi saya katakan -, stelsel itu ternyata dan
terbukti stelsel yang mencilakakan dunia.
“Ya”, orang menyahut, “tetapi
kapitalisme bangsa sendiri?
Kapitalisme bangsa sendiri yang bisa kita pakai
untuk memerangi imperialisme? Apakah kita harus juga anti kapitalisme bangsa
sendiri itu, dan menjalankan perjoangan kelas alias klassenstrijd?”
Dengan tertentu di sini saya menjawab: Ya, kita
harus juga anti kepada kapitalisme bangsa sendiri itu! Kita harus juga anti
isme yang ikut menyengsarakan Marhaen itu. Siapa mengetahui keadaan kaumburuh
di industri batik, rokok-kretek, dan lain-lain dari bangsa sendiri, di mana
saya sering melihat upah-buruh yang kadang-kadang hanya 10 a 12 sen sehari, –
siapa mengetahui keadaan perburuhan yang sangat buruk di industri-industri
bangsa sendiri itu -, ia mustilah juga menggoyangkan kepala dan dapat
rasa-kesedihan melihat buahnya cara-produksi yang tak adil itu. Pergilah ke
Mataram, pergilah ke Lawean Solo, pergilah ke Kudus, pergilah ke Tulung Agung,
pergilah ke Blitar, – dan orang akan menyaksikan sendiri
“rahmat-rahmatnya” cara-produksi itu.
Seorang
nasionalis, justru karena ia orang nasionalis, haruslah berani membukakan mata
di muka keadaan-keadaan yang nyata itu. Ia harus mengabdi kepada kemanusiaan.
Ia harus memperhatikan perkataan-perkataan Gandhi yang saya sajikan tempo
hari: nasionalismeku adalah kemanusiaan. Ia harus SOSIO-nasionalis, yakni
seorang nasionalis yang mau memperbaiki masyarakat dan yang DUS anti segala
stelsel yang mendatangkan kesengsaraan ke dalam masyarakat itu. Ia harus
sebagai Jawaharlal Nehru yang berkata:
“Saya seorang nasionalis. Tapi saya juga
seorang sosialis dan republikein. Saya tidak percaya pada raja-raja dan
ratu-ratu, tidak pula kepada susunan masyarakat yang melahirkan
raja-raja-industri yang pada hakekatnya berkuasa lebih besar lagi daripada
raja-raja di zaman sediakala. Saya niscaya mengerti, bahwa Congress belum bisa
mengadakan program sosialistis yang selengkap-lengkapnya. Tetapi
filsafat-sosialisme sudahlah dengan perlahan-lahan menyerapi segenap susunan
masyarakat di seluruh dunia. India niscaya akan menjalankan cara-cara sendiri,
dan menyocokkan cita-cita sosialis itu kepada keadaan penduduk India
seumumnya.”
Tetapi, apakah ini berarti, bahwa kita harus
memusuhi tiap-tiap orang Indonesia yang mampu? Sama sekali tidak. Sebab
pertama-tama: kita tidak memerangi “orang”, – kita memerangi stelsel.
Dan tidak tiap-tiap orang yang mampu adalah menjalankan kapitalisme. Tidak
tiap-tiap orang yang mampu adalah mampu karena mengeksploitasi orang lain.
Tidak tiap-tiap orang mampu adalah menjalankan cara-produksi sebagai yang saya
terangkan dengan singkat (dengan menyitat dari pembelaan) di atas tahadi.
Dan tidak tiap-tiap orang mampu adalah ikut atau
hidup di dalam ideologi kapitalisme, yakni di dalam akal, fikiran, budi,
pekerti kapitalisme. Pendek, tidak tiap-tiap orang mampu adalah jenderal atau
sersan atau serdadu kapitalisme!
Dan apakah prinsip kita itu berarti, bahwa kita ini
harus mementingkan perjoangan kelas? Juga sama sekali tidak. Kita nasionalis,
mementingkan perjoangan nasional, perjoangan kebangsaan.
Hal ini saya terangkan dalam karangan saya yang akan datang.
Di dalam karangan saya yang lampau saya katakan,
bahwa kita harus anti segala kapitalisme, walaupun kapitalisme bangsa sendiri.
Tetapi di situ saya janjikan pula untuk menerangkan, bahwa kita di dalam
perjoangan kita mengejar Indonesia-Merdeka itu tidak pertama-tama mengutamakan
perjoangan kelas, tetapi harus mengutamakan perjoangan nasional. Memang kita, –
begitulah saya tuliskan adalah kaum nasionalis, kaum kebangsaan, dan bukan kaum
apa-apa yang lain.
Apa sebabnya kita harus mengutamakan perjoangan
nasional di dalam usaha kita mengejar Indonesia-Merdeka? Kita mengutamakan
perjoangan nasional, oleh karena keinsyafan dan perasaan nasional, adalah
keinsyafan dan perasaan yang terkemuka di dalam sesuatu masyarakat kolonial.
Di dalam sesuatu masyarakat selamanya adalah
antithese, yakni perlawanan. Inilah menurut dialektiknya semua keadaan. Tetapi
di Eropah, di Amerika, antithese ini sifatnya adalah berlainan dengan antithese
yang ada di sesuatu negeri kolonial.
Pada hakekatnya, antithese di mana-mana adalah sama:
perlawanan antara yang “di atas” dan yang “di bawah”,
antara yang “menang” dan yang “kalah”, antara yang menindas
dan yang tertindas.
Tetapi di Eropah, di Amerika, dan di negeri-negeri
lain yang merdeka, dua golongan yang ber-antithese itu adalah dari satu bangsa,
satu kulit, satu ras. Kaum modal Amerika dengan kaum buruh Amerika, kaum modal
Eropah dengan kaum buruh Eropah, kaum modal negeri merdeka dengan kaum buruh
negeri merdeka, umumnya adalah dari satu darah, satu natie. Karena itulah maka
di sesuatu negeri yang merdeka antithese tahadi tidak mengandung rasa atau
keinsyafan kebangsaan, tidak mengandung rasa atau keinsyafan nasional, tetapi
adalah bersifat zuivere klassenstrijd, – perjoangan kelas yang melulu
perjoangan kelas.
Tetapi di dalam negeri jajahan, di dalam negeri yang
di bawah imperialisme bangsa asing, maka yang “menang” dan yang
“kalah”, yang “di atas” dan yang “di bawah”, yang
menjalankan kapitalisme dan yang dijalani kapitalisme, adalah berlainan darah,
berlainan kulit, berlainan natie, berlainan kebangsaan. Antithese di dalam
negeri jajahan adalah “berbarengan” dengan antithese bangsa, –
samenvallen atau coincideeren dengan antithese bangsa. Antithese di dalam
negeri jajahan adalah, oleh karenanya, terutama sekali bersifat antithese
nasional.
Itulah sebabnya, maka perjoangan kita untuk mengejar
Indonesia Merdeka, jikalau kita ingin lekas mendapat hatsil, haruslah pertama-tama
mengutamakan perjoangan nasional, yakni pertama-tama mengutamakan perjoangan
nasional. Kita anti segala kapitalisme, kita anti kapitalisme bangsa sendiri,
tetapi kita untuk mencapai Indonesia Merdeka, yakni untuk mengalahkan
imperialisme bangsa asing, harus mengutamakan perjoangan kebangsaan.
Mengutamakan perjoangan kebangsaan, itu TIDAK
berarti bahwa kita tidak harus melawan ketamaan atau kapitalisme bangsa
sendiri. Sebaliknya! Kita harus mendidik rakyat juga benci kepada kapitalisme
bangsa sendiri, dan di mana ada kapitalisme bangsa sendiri, kita harus melawan
kapitalisme bangsa sendiri itu juga! Tetapi MENGUTAMAKAN perjoangan
nasional, itu adalah berarti, bahwa
pusarnya, titik beratnya, aksennya kita punya perjoangan haruslah terletak di
dalam perjoangan nasional. Pusarnya kita punya perjoangan sekarang haruslah di
dalam memerangi imperialisme asing itu dengan segala tenaga kita nasional,
dengan segala tenaga-kebangsaan, yang hidup di dalam sesuatu bangsa yang tak
merdeka dan yang ingin merdeka! Pusarnya kita punya perjoangan sekarang
haruslah di dalam dynamisering, yakni membangkitkan menjadi aksi dan perbuatan
daripada rasa-kebangsaan alias nationaal bewustzijn kita, nationaal bewustzijn
yang hidup di dalam hati-sanubari tiap-tiap rakyat sadar yang tak merdeka.
Jadi, siapa yang mengira, bahwa kita punya
nasionalisme adalah nasionalisme yang suka “main mata” dengan
burjuisme, ia adalah salah sama sekali. Kita hanyalah menjatuhkan pusar, titik berat,
aksennya kita punya perjoangan di dalam perjoangan nasional. Burjuisme harus
kita tolak, kapitalisme harus kita lawan, – oleh karena itulah maka kita punya
nasionalisme Marhaenistis. Sebab, hanya kaum Marhaen sendirilah yang menurut
dialektik satu-satunya golongan yang sungguh-sungguh ben, antithese dengan
burjuisme dan kapitalisme itu, dan yang dus bisa sungguh-sungguh menentang dan
mengalahkan burjuisme dan kapitalisme itu. Hanya kaum Marhaen sendirilah yang
menurut riwayat bisa menjalankan “pekerjaan-riwayat” alias
“historische taak”, menghilangkan segala burjuisme dan kapitalisme
di negeri kita adanya!
Memang! Marhaenistis nasionalismelah pula yang cocok
dengan keadaan-nyata yang didatangkan oleh imperialisme di Indonesia sini.
Imperialisme Belanda, sedikit berlainan dengan imperialisme Inggeris atau
imperialisme Amerika, adalah lebih “memarhaenkan” masyarakat
Bumiputera daripada imperialisme-imperialisme yang lain. Imperialisme Belanda
itu sejak mulanya datang di Indonesia sini, adalah berazas dan bersifat
monopolistis, – merebut tiap-tiap akar perusahaan, pertukangan atau perdagangan
atau pelayaran yang ada di Indonesia sini. Imperialisme Belanda itu adalah
imperialisme yang lebih “kolot” daripada imperialisme-imperialisme
yang lain, lebih “kuno”, lebih “orthodox” daripada
imperialisme-imperialisme yang lain. Tidak ada sedikitpun warna modern-liberalisme
padanya, sebagaimana yang tampak pada imperialisme-imperialisme lain.
Politiknya adalah politik menggagahi semua alat-perekonomian di Indonesia
sini, menggagahi segala “economisch leven” (kehidupan ekonomi) di
Indonesia sini.
Kini masyarakat Indonesia adalah “masyarakat
kecil”, masyarakat yang hampir segala-galanya kecil. Kini masyarakat
Indonesia buat sebagian yang besar sekali hanyalah mengenal pertanian-kecil,
pelayaran-kecil, perdagangan-kecil, perusahaan kecil. Kini masyarakat Indonesia
adalah 90% masyarakat kekecilan itu, masyarakat Marhaen yang hampir tiada
kehidupan ekonominya sama sekali Oleh karena itulah, maka Marhaenistis
nasionalisme adalah satu-satunya nasionalisme yang cocok dengan sifatnya
masyarakat Indonesia itu, cocok dengan keadaan-nyata, cocok dengan realiteit di
Indonesia itu. Dan oleh karena itulah pula, maka juga hanya Marhaenistis
nasionalisme sahajalah yang bisa menjalankan historische-taak mendatangkan
Indonesia Merdeka dengan secepat-cepatnya, historische taak yang sesuai juga
dengan historische-taak-nya menghilangkan segala burjuisme dan kapitalisme
adanya!
Jawaharlal Nehru, di dalam pidatonya di muka
National Congress yang ke 44, sebagai yang telah kita kutip tempo-hari,
mengakui dengan terus terang seorang sosialis, yang anti segala kapitalisme.
Tetapi Jawaharlal Nehru itu pula adalah seorang nasionalis, the second
uncrowned king of India, raja kedua dari India yang tak bermahkota yang membangkitkan
segala tenaga rakyat India ke dalam suatu perjoangan nasional yang mati-matian.
Nasionalisme Jawaharlal Nehru adalah nasionalisme India yang Marhaenistis,
suatu sosio-nasionalisme yang ingin menghilangkan semua kapitalisme,
menyelamatkan seluruh masyarakat India.
Nasionalisme yang demikian itulah nasionalisme kita
pula.
Apakah demokrasi itu? Demokrasi adalah “pemerintahan rakyat”. Cara pemerintahan ini memberi hak kepada semua rakyat untuk ikut memerintah.
Cara pemerintahan ini sekarang menjadi cita-cita semua partai-partai nasionalis di Indonesia. Tetapi
dalam mencita-citakan faham dan cara-pemerintahan demokrasi itu kaum
Marhaen tokh harus berhati-hati. Artinya: jangan meniru sahaja
“demokrasi-demokrasi”
yang kini dipraktekkan di dunia luaran.
Bagaimanakah prakteknya demokrasi di dunia luaran itu?
Yang membawa “demokrasi”
mula-mula di dunia Barat ialah pemberontakan Perancis, – kurang lebih 100 a 125 tahun yang lalu. Sebelum ada pemberontakan Perancis itu, cara pemerintahan Eropah adalah otokrasi: kekuasaan pemerintahan adalah di dalam tangan satu orang sahaja, yaitu di dalam tangan Raja. Rakyat tak ikut bersuara. Rakyat harus menurut sahaja.
Raja mengaku dirinya sebagai wakil Allah di dunia ini.
Salah
seorang raja yang demikian itu pernah ditanya oleh
salah
seorang
menterinya: “Ratu, apakah staat itu?
Apakah yang dinamakan staat itu?” Raja menjawab: “Staat adalah aku
sendiri! L’Etat, c’est moi!” Memang
raja ini adalah seorang otokrat yang tulen!
Di dalam cara-pemerintahan otokrasi itu, raja
disokong oleh dua golongan. Pertama: golongan kaum ningrat, kedua:
golongan kaum penghulu agama. Kedua golongan ini menjadi bentengnya raja, bentengnya otokrasi. Jadi: raja + kaum ningrat + kaum
penghulu agama adalah “gambarnya” kaum jempolan di dalam masyarakat itu. Masyarakat yang demikian itu dinamakan masyarakat F E O D A L.
Tetapi
lambat laun timbullah satu golongan baru, suatu kelas baru, yang ingin mendapat
kekuasaan pemerintahan. Golongan baru atau kelas baru ini
adalah kelasnya kaum
burjuis. Mereka punya perusahaan-perusahaan, mereka punya perniagaan, mereka punya pertukangan, mulai lahir dan
timbul. Untuk suburnya dan
selamatnya mereka
punya perusahaan, perniagaan dan
pertukangan itu, perlulah mereka mendapat kekuasaan
pemerintahan. Mereka sendirilah yang lebih tahu mana Undang-undang,
mana aturan-aturan, mana cara-pemerintahan
yang paling baik buat kepentingan mereka, dan bukan raja,
bukan kaum ningrat, bukan kaum penghulu agama!
Tetapi kekuasaan masih ada di tangan raja, dibentengi oleh kaum ningrat
dan kaum penghulu agama!
“Welnu”, kata kaum burjuis, “kekuasaan itu
harus direbut!”
Tetapi buat merebut, orang harus mempunyai kekuatan!
Padahal kaum burjuis belum mempunyai kekuatan itu!
“Nah”,
kata kaum burjuis sekali lagi, “kita memakai kekuatan rakyat-jelata!” Dan begitulah maka rakyat-jelata itu oleh kaum burjuis lalu diajak bergerak,
diabui matanya, bahwa pergerakannya itu ialah untuk mendatangkan “kemerdekaan, persamaan dan
persaudaraan”!
“Liberte, fraternite, egalite”, adalah semboyannya pergerakan
burjuis memakai tenaga rakyat itu.
Rakyat menurut, – ya, rakyat berkelahi mati-matian! Apakah sebabnya rakyat mau diajak bergerak? Sebabnya ialah bahwa nasibnya rakyat di bawah pemerintahan otokrasi itu adalah nasib yang sengsara sekali, dan bahwa rakyat itu masih kurang sadar yang ia hanya menjadi perkakas burjuis sahaja.
Pergerakan menang! Raja runtuh, kaum ningrat runtuh, kaum
penghulu agama
runtuh, – pendek kata: otokrasi runtuh, – diganti dengan cara-pemerintahan baru yang dinamakan “demokrasi”.
Di negeri diadakan parlemen, dan “rakyat boleh mengirim utusan keparlemen itu”.
Cara-pemerintahan inilah yang kini dipakai oleh semua negeri di Eropah
Barat dan di Amerika.
Perancis mempunyai parlemen, Inggeris mempunyai parlemen, Belanda mempunyai parlemen, Amerika Utara mempunyai parlemen, -semua negeri modern mempunyai parlemen. Di semua negeri modern itu adalah “demokrasi” …
Tetapi, … di semua negeri modern itu kapitalisme subur dan merajalela! Di semua negeri modern itu kaum proletar ditindas hidupnya. Di semua negeri modern itu kini hidup milyunan kaum penganggur, upah dan nasib kaum buruh adalah upah dan nasib kokoro, – di semua negeri modern itu rakyat tidak selamat, bahkan sengsara sesengsara-sengsaranya.
Inikah hatsilnya “demokrasi” yang dikeramatkan orang?
Amboi, – parlemen! Tiap-tiap kaum proletar kini bisa ikut
memilih wakil ke dalam
parlemen itu, tiap-tiap kaum proletar kini bisa
“ikut
memerintah”! Ya, tiap-tiap
kaum proletar kini, kalau dia mau, bisa mengusir
minister, menjatuhkan minister itu terpelanting daripada kursinya.
Tetapi pada saat yang ia bisa
menjadi “raja” di parlemen
itu, pada saat itu juga ia sendiri bisa
diusir dari paberik di mana ia bekerja dengan upah kokoro, – dilemparkan di atas jalan, menjadi orang p e n g angguran,
Inikah “demokrasi” yang dikeramatkan itu?
Dengarkanlah
pidatonya Jean Jaures, – bukan komunis! -,
mengeritik
“demokrasi” itu:
“Kamu, kaum
burjuis, kamu mendirikan republik, dan itu adalah kehormatan yang besar. Kamu membikin republik itu teguh dan kuat, tak dapat dirobah sedikitpun jua, tetapi karena itulah
kamu
telah mengadakan pertentangan antara susunan politik dan
susunan ekonomi.
Karena Pemilihan
Umum, kamu telah membikin semua penduduk berkumpul di dalam rapat yang seolah rapatnya raja-raja.
Mereka punya kemauan adalah sumbernya tiap undang-undang, tiap pemerintahan; mereka melepas mandataris, pembuat undang-undang dan
menteri. Tetapi pada saat itu juga yang si buruh menjadi tuan di dalam urusan politik, maka ia adalah menjadi budak belian di dalam urusan ekonomi.
Pada saat yang ia menjatuhkan menteri-menteri, maka ia sendiri bisa diusir dari bingkil zonder ketentuan sedikit juapun
apa yang esok harinya akan dimakan. Tenaga-pekerjaannya hanyalah suatu barangbelian, yang bisa dibeli atau ditampik oleh kaum majikan. Ia bisa
diusir dari bingkil, karena ia tak mempunyai hak ikut menentukan peraturan-peraturan bingkil, yang saban hari, zonder dia tetapi buat menindas dia, ditetapkan kaum majikan sendiri!”
Sekali lagi: inikah “demokrasi” yang orang keramatkan itu?
Bukan, – ini bukan demokrasi yang harus kita tiru, bukan demokrasi untuk kita kaum Marhaen Indonesia! Sebab
“demokrasi” yang begitu hanyalah demokrasi parlemen sahaja, yakni hanya demokrasi politik sahaja.
Demokrasi ekonomi tidak ada.
Sosio-nasionalisme dan
sosio-demokrasi.
Di dalam karangan saya yang lalu, saya terangkan dengan singkat, bahwa demokrasi-politik sahaja, belum menyelamatkan rakyat.
Bahkan di negeri-negeri, sebagai Inggeris, Nederland, Perancis, Amerika d.1.1., di mana “demokrasi” telah dijalankan, kapitalisme
merajalela dan kaum Marhaen-nya papa-sengsara!
Kaum nasionalis
Indonesia tidak boleh mengeramatkan “demokrasi” yang demikian itu. Nasionalisme kita haruslah nasionalisme yang tidak mencari “gebyarnya” atau kilaunya negeri keluar sahaja, tetapi ia haruslah mencari selamatnya semua manusia.
Banyak di antara kaum nasionalis Indonesia yang berangan-angan: “Jempol
sekali jikalau negeri kita bisa seperti negeri Jepang
atau negeri Amerika atau negeri Inggeris!
Armadanya ditakuti dunia, kotanya haibat-haibat, bank-banknya meliputi dunia, benderanya kelihatan di mana-mana!”
Kaum nasionalis yang demikian itu lupa bahwa barang yang haibat-haibat itu adalah hatsilnya kapitalisme, dan bahwa kaum Marhaen di negeri-negeri itu adalah tertindas. Kaum nasionalis yang demikian itu, adalah kaum nasionalis yang burgerlijk, yaitu kaum nasionalis burjuis
Mereka bisa juga revolusioner, tetapi revolustonernya adalah BURGERLIJK REVOLUTIONAIR. Mereka hanyalah ingin Indonesia-Merdeka sahaja sebagai maksud yang penghabisan, dan tidak suatu masyarakat yang adil zonder ada kaum yang tertindas. Mereka lupa, bahwa Indonesia Merdeka hanyalah suatu syarat sahaja untuk memperbaiki masyarakat Indonesia yang rusak itu. Mereka adalah burgerlijk revolutionair, dan tidak SOCIAAL REVOLUTIONAIR. tidak MARHAENISTIS REVOLUTIONAIR.
Nasionalisme kita tidak boleh nasionalisme yang demikian itu. Nasionalisme kita haruslah nasionalisme yang mencari selamatnya perikemanusiaan. Nasionalisme kita haruslah lahir daripada
menselijkheid, “Nasionalismeku adalah peri-kemanusiaan”, –
begitulah Gandhi berkata.
Nasionalisme kita, oleh karenanya, haruslah nasionalisme, yang dengan perkataan baru kami sebutkan; SOSIO-NASIONALISME.
Dan demokrasi yang harus kita cita-citakan haruslah juga demokrasi yang kami sebutkan: SOSIO-DEMOKRASI.
Apakah sosio-nasionalisme dan sosio-demokrasi itu?
Dua perkataan ini adalah perkataan bikinan, kami punya bikinan. Sebagaimana perkataan Marhaen adalah tempo hari kami “bikinkan” buat menyebutkan kaum yang melarat-sengsara. maka perkataan sosio-nasionalisme sosio-demokrasi adalah pula perkataan bikinan untuk menyebutkan kita punya nasionalisme dan kita punya demokrasi.
Sosio adalah terambil daripada perkataan yang berarti:
Sosio-nasionalisme adalah dus: nasionalisme-masyarakat, dan
sosiodemokrasi adalah demokrasi-masyarakat.
Tetapi apakah nasionalisme-masyarakat dan demokrasi-masyarakat itu?
Nasionalisme-masyarakat adalah nasionalisme yang timbulnya tidak karena “rasa” sahaja, tidak karena
“gevoel” sahaja, tidak karena “lyriek” sahaja, – tetapi ialah karena keadaan-keadaan yang nyata di dalam masyarakat. Nasionalisme-masyarakat, – sosio-nasionalisme bukanlah nasionalisme “ngalamun”, bukanlah nasionalisme
“kemenyan”, bukanlah nasionalisme “melayang”, tetapi ialah
nasionalisme yang dengan dua-dua kakinya berdiri di dalam masyarakat.
Memang,
maksudnya sosio-nasionalisme ialah
memperbaiki keadaan-keadaan di dalam masyarakat itu, sehingga keadaan yang kini pincang itu menjadi keadaan yang sempurna, tidak ada kaum yang tertindas, tidak ada kaum yang cilaka, tidak ada kaum yang papa-sengsara.
Oleh
karenanya, maka sosio-nasionalisme adalah
nasionalisme Marhaen, dan menolak tiap tindak burjuisrne yang menjadi sebabnya kepincangan masyarakat itu. Jadi: sosio-nasionalisme adalah
nasionalisme politik DAN ekonomi, – suatu nasionalisme yang bermaksud mencari keberesan politik DAN keberesan
ekonomi, keberesan negeri DAN keberesan rezeki.
Dan demokrasi-masyarakat? Demokrasi-masyarakat, sosio-demokrasi adalah
timbul karena sosio-nasionalisme. Sosio-demokrasi adalah pula demokrasi yang berdiri dengan dua-dua
kakinya di dalam masyarakat. Sosio-demokrasi tidak ingin
mengabdi kepentingan sesuatu gundukan kecil sahaja,
tetapi kepentingan masyarakat.
Sosio-demokrasi bukanlah
demokrasi a la Revolusi Perancis, bukan
demokrasi a la Amerika, a la Inggeris, a la Nederland, a la Jerman d.l.l., – tetapi ia adalah demokrasi sejati yang mencari keberesan politik DAN
ekonomi, keberesan negeri dan keberesan
rezeki. Sosio-demokrasi adalah demokrasi-politik DAN demokrasi-ekonomi.
Komunis?
Sosio-nasionalisme
dan sosio-demokrasi bukanlah angan-angan komunis. Pernah saya terangkan, bagaimana seorang pemimpin, Jean Jaures yang bukan komunis, juga menghendaki
demokrasi politik dan demokrasi ekonomi. Dan di dalam salah satu karangan saya dulu sudah dikatakan pula, bahwa juga Dr. Sun
Yat Sen mencela “demokrasi” a la Revolusi Perancis atau a la Inggeris, Nederland d.l.l. itu. Pun pemimpin-pemimpin lain sebagai Gandhi,
Nehru-muda, d.l.l., mencela “demokrasi” yang demikian itu.
Memang
orang tak usah menjadi komunis, buat; melihat bahwa di dalam negeri-negeri
“demokrasi” itu, sebagian besar dari kaum rakyat adalah tertindas oleh kapitalisme.
Orang tak usah menjadi komunis, buat melihat bahwa “demokrasi” negeri-negeri itu
adalah demokrasi berjuis sahaja.
Kontra angan-angan
demokrasi borjuis ini kaum Marhaen harus bercita-cita dan menghidup-hidupkan sosio-demokrasi, yakni demokrasi politik dan demokrasi ekonomi.
Dan kontra
nasionalisme burjuis kita taruhkan kita punya sosio-nasionalisme.
Bagaimana
sosio-demokrasi, demokrasi politik dan demokrasi ekonomi itu, bisa diyalankan, akan saya gambarkan di dalam garis-garisnya yang besar di dalam karangan saya yang akan datang.
Gempar
karena mendengar sembojannya kaum Marhaeni Bandung yang berbunyi: “Kita
tidak sudi ekonomi-ekonomian atau sosial-sosialan sahaja, kite tidak mendirikan
perhimpunan sendiri, kita duduk dalam satu organisasi-politik dengan kaum
laki-laki, kita menjalankan satu massa aksi dengan kaum laki-laki itu!”
Dan mereka gempar-maha-gempar, tatkala kaum Marhaeni Bandung itu ternyata
memfikirkan semboyan itu, dengan mengadakan suatu rapat-besar pada hari 25 Juni
yang lalu, yang mengobarkan hatinya orang 4.000 perempuan dan laki-laki.
Sebab
apa gempar? Katun kolot gempar, oleh karena “perempuanberaksi-politik”
memang adalah suatu barang baru baginya, dan terutama sekali oleh karena mereka
memang selamanya hidup di dalam keadatan ideologi, bahwa kaum perempuan itu
harus mempunyai organisasi sendiri. Mereka hidup didalam keadatan melihat
organisasi-organisasi “perempuan sendiri” sebagai Putri Budi Sejati,
sebagai Pasundan Isteri, sebagai P.P.I.I., sebagai Wanito Utomo d.l.s., ya
mereka melihat organisasi kaum perempuan-sendiri sebagai Isteri Sedar yang tokh
terkenal kid itu,l) – dan kini keadatan ini dirobek
oleh
kaum Marhaeni Bandung dengan semboyannya tidak mau organisasi-sendiri, tetapi
organisasi bersama dengan kaum laki-laki! Kini Marhaeni Bandung itu tidak mau
diadakan perbedaan dan tidak mau diadakan perpisahan antara kaum perempuan dan
kaum laki-laki.
Siapa
yang benar? Harus ada organisasi “perempuan-sendiri”, atau tidak
harus ada organisasi perempuan sendiri? Yang benar, – bagi pergerakan politik
Marhaen – , adalah kaum Marhaeni Bandung: di dalam perjoangan politik Marhaen
itu, terutama sekali di dalam perjoangan Marhaen-radikal, kaum perempuan dan
laki-laki harus sama-sama duduk di dalam satu organisasi, bersama-sama
mengobar-ngobarkan massa-aksi.
Kita menyebutkan nama-nama ini tidak buat
menyerang, tapi hanya buat “gedachte bepaling” sahaja.
Di dalam F.R. hampir setahun yang lalu, hal ini sebenarnya sudah saya terangkan. Tetapi berhubung dengan kegemparan kaum-kolot tercengang melihat aksinya Marhaeni Bandung itu, baiklah saya kupas lagi.
Kaum
perempuan tidak cukup, dengan mengejar persamaan hak dengan laki-laki sahaja,
tidakpun cukup dengan mendapat persamaan hak dengan laki-laki sahaja, tidakpun
cukup dengan mendapat persamaan hak dengan kaum laki-laki itu. Riwayat
pergerakan dunia membuktikan hal inl. Dulu, di benua asing, memang persamaan
hak sahaja yang dikejar oleh perempuan.
Dulu
memang hanya “vrouwenemancipatie” sahaja yang diperhatikan. Kaum
laki-laki boleh jadi pegawai paberik, boleh berpolitik, boleh menjadi advocaat,
boleh menjadi guru, boleh djadi anggauta parlemen, – kenapa kaum perempuan
tidak? Wahai, kaum perempuan, marilah bersatu, marilah rukun, marilah menuntut
persamaan hak dengan kaum laki-laki itu, merebut persamaan hak itu dari
tangannya kaum laki-laki yang mau menggagahi dunia sendiri!
Begitulah
mereka punya pekik-perjoangan.
Dan
mereka lantas mendirikan organisasi-organisasi perempuan sendiri, dan
membangkitkan organisasi-perempuan itu di dalam perjoangan terhadap kaum
Mereka
memandang kaum laki-laki itu sebagai musuh, sebagai saingan, sebagai saingan
yang sombong dan bengal. Mereka berjoang dengan ulet dan berani, dan akhirnya
mereka menang.
Dan
di dalam perjoangan itu, seluruh dunia burjuis adalah bersimpati kepadanya. Di
dalam perjoangan itu mereka sangat sekali mendapat sokongan dari dunia burjuis
itu, mendapat sokongan dari dunia kemodalan. Sokongan karena
“rasa-kemanusiaan”? Karena “rasa keadilan”, karena
“rasa ethiek”? Boleh jadi begitu; memang persamaan hak antara
perempuan dan laki-laki adalah juga soal “kemanusiaan”, soal
“keadilan”, soal “ethiek”. Memang tiap-tiap manusia yang
adil dan sehat otak, harus menyokong aksi merebut persamaan hak itu.
Tetapi
diatas dasarnya “rasa kemanusiaan” daripada kaum burjuis dan kaum
modal itu adalah terletak “rasa-keuntungan” yang tebal sekali.
“Ethiek”-nya kaum burjuis terhadap pada soal ini adalah ethieknya
kepentingan kelas yang mentahmentahan: jikalau kaum perempuan dapat merobek
adat kuno dan mendapat persamaan
hak
dengan kaum laki-laki, jikalau adat kuno yang mengurung kaum perempuan di dalam
dapur itu bisa lenyap sehingga mereka boleh masuk ke dalam “dunia
luaran”, jikalau kaum perempuan itu dus boleh masuk bekerja di dalam
paberik, di dalam bingkil, di dalam perdagangan, di dalam kantor, di dalam
bedrijf, maka kaum burjuislah yang sangat untung, kaum burjuislah yang mendapat
kaum buruh murah!
Inilah
yang menjadi dasarnya “kemanusiaan” kaum burjuis. Inilah
“ethiek”-nya kaum burjuis menyokong kaum perempuan merobek tabirnya
adat kuno. Inilah yang memberi kebenaran pada perkataan Henriette Roland Holst,
bahwa pergerakan emansipasi-wanita itu dulu sebenarnya adalah suatu
“pergerakan burjuis”. Tetapi inilah pula yang menjadi sebab, yang
kaum perempuan sebentar sesudahnya mendapat kemenangan persamaan-hak itu,
segera terbuka matanya, bahwa persamaan hak belum menyelamatkan mereka.
Sebaliknya!
Dengan adanya tentara-kerja rangkap ini, dengan adanya tentara-buruh
laki-perempuan yang dua kali jumlahnya daripada dulu, keadaan proletariat
semangkin merosot. Upah-upah turun, tempoh bekerja naik, kaum laki banyak yang
dilepas, kaum perempuan dikerjakan sampai malam dan sampai pagi. Maka timbullah
pergerakan modern, di mana kaum laki-laki dan perempuan itu bersama-sama
berjoang, bersama-sama mencari dunia-baru, bersama-sama menggugurkan
kapitalisme. Organisasi-organisasi “perempuan-sendiri” tahadi
tinggallah organisasi perempuan-burjuis sahaja, – kaum proletar-perempuan masuk
di dalam “internationale arbeidsbeweging” (gerakan buruh
internasional) yang menggodog kaum perempuan itu bersama kaum laki-laki di
dalam satu kawah-candradimukanya perjoangan melawan stelsel kemodalan. Pemimpin-pemimpin
perempuan sebagai Clara Zetkin, sebagai Rosa Luxemburg, sebagai Henriette
Roland Holst, Spiridonova, Wera Sasulitsch, Wera Figner, Nadeshda Krupskaya,
Katharina Brechskowskaya tidak memanggul bendera perempuan-sendiri, tidakpun
“mewakili” proletar-perempuan sendiri, tetapi memanggul benderanya
seluruh tentara proletar, berjoang di dalam kalangannya seluruh tentara
proletar, mengomandokan komandonya seluruh tentara proletar.
Dus
samasekali tidak ada “organisasi-perempuan” di dalam perjoangan
proletar? Ada – , ada kecil-kecil, ada ranting-ranting, tetapi sebagai sistem,
tidak ada perpisahan antara perempuan dan laki-laki, – sebagai sistem laki-laki
dan perempuan dua-duanya masuk di dalam satu periuk-pendidih. Maka oleh karena
itu, jikalau kita memperhatikan ajaran dari negeri asing ini, jikalau kita
tidak mau berbuat anti-sosial, jikalau kita tidak mau bersifat burjuis tetapi
mau Marhaenistis-proletaris yang 100%, maka kita punya kaum Marhaeni harus juga
segera melemparkan jauh-jauh tabir adat kuno itu melenyapkan sesegera-segeranya
itu “burgerlijke ideologie”
(Henriette Roland Hoist!) bahwa kaum perempuan perlu mempunyai organisasi sendiri. Tidak! Kaum Marhaeni harus segera mencampurkan dirinya dengan kaum Marhaen, meluluhkan dirinya dengan kaum Marhaen itu di dalam satu organisasi yang radikal dan benar-benar berjoang, satu organisasi politik yang 100% sosial-revolusioner.
Pemimpin-pemimpin-perempuan
ini hampir semuanya duduk di dalam sayap Aneh sekali, bahwa sayap kanan tak
banjak pemimpinnya perempuan sang besar.
Walau
di Hindustan-pun, pergerakan Satyagraha adalah suatu luluhan antara laki-laki
dan perempuan, suatu luluhan antara pahlawan dan pahlawani, – suatu luluhan
antara Marhaen dan Marhaeni!
Kesopanan?
Memang! Kita harus menjaga kesopanan itu.
Kita
harus menjaga, jangan sampai percampuran antara perempuan dan laki-laki ini
menjadi merusakkan kepada azas kesopanan kita. Tetapi ini adalah suatu azas
moreel, suatu moreel beginsel, dan bukan suatu azas politik, bukan suatu
politiek beginsel.
Azas
politik menyuruh kepada Marhaeni dan Marhaen itu, bersama-sama terjun ke dalam
satu kawah, yang nanti akan meleburkan stelsel kapitalisme dan stelsel
imperialisme adanya!
Pada hari Jum’at (23 – 8 – 2019), Panitia Seleksi Calon Pimpinan KPK (CAPIM KPK) mengumumkan hasil seleksi tahap “Profile Assessment” yakni dari 40 orang menjadi 20 orang capim.
Menyikapi hasil seleksi tersebut KMS Anti Korupsi Sul-Tra mempertanyakan kredibilitas proses dan komitmen presiden JOKOWI dalam visi misinya yang ingin memberantas korupsi dan menciptakan SDM yang unggul untuk Indonesia Maju. Sebab dari komposisi 20 besar seperti sekarang ini, maka yang paling banyak menyumbang capim itu adalah dari institusi kepolisian 4 orang, kejaksaan 3, Universitas 2 orang, Pengadilan 1 orang, dan dari internal KPK 2 orang. Dengan komposisi ini yang didominasi kepolisian, maka kemudian masyarakat dapat beranggapan bahwa kantor kepolisian itu nantinya berada di 2 tempat yakni di Jl. Turnojoyo dan Kuningan.
Masuknya CAPIM KPK dari institusi seperti kepolisian, kejaksaan dan pengadilan ini bertentangan dengan sejarah pembentukan KPK, karena KPK lahir sebagai anti-tesis dari buruknyan pemberantasan korupsi di internal kepolisian, kejaksaan dan pengadilan.
PANSEL seharusnya mempertimbangkan jika CAPIM KPK yang berasal dari ketiga institusi tersebut memiliki niat untuk memberantas korupsi atau merasa memiliki integritas maka seharusnya tidak perlu mendaftarkan diri sebagai Pimpinan KPK tetap bertahan di lembaganya masing-masing agar mampu memberantas korupsi dari internal mereka.
Menyikapi hal tersebut maka KMS Anti Korupsi Prov Sulawesi Tenggara menyatakan Sikap:
Menyatakan keputusan PANSEL CAPIM KPK ini cenderung meloloskan capim yang berasal dari salah satu lembaga tertentu.
Keputusan PANSEL ini menyurutkan semangat pemberantasan Korupsi di Indonesia, khususnya di provinsi Sulawesi Tenggara.
Salah satu Fokus KPK pada saat ini adalah Pemberantasan Korupsi di sektor Pengelolaan Sumber Daya Alam (SDA) antara lain melalui Korsub MINERBA dan GN-PSDA, namun dengan hasil seleksi tahap ini PANSEL CAPIM KPK tidak searah dengan fokus tersebut, dimana mengugurkan calon yang berpengalaman dan berintegritas dalam pemberantasan Korupsi di sektor tersebut.
Dengan hasil ini PANSEL KPK membuka ruang pada calon-calon yang tidak berintegritas, dimana beberapa calon yang lolos tahap seleksi itu, tidak berinisiatif menyerahkan LHKPN.
PANSEL KPK seharusnya bertindak dan mengambil keputusan yang bebas dari Intervensi dan konflik kepentingan pihak-pihak tertentu termasuk dari Presiden sendiri.
Kendari, Jumat 23 Agustus 2019
*KMS Anti Korupsi Provinsi SULTRA *Kisran Makati – PUSPAHAM Hasmida Karim – ALPEN-SULTRA Hariman Satria – FH UMK Torop – KPA SulTra Pandi Satriaman – AJI SULTRA Andi Rahman – Komunitas Peradilan Semu Fak. Hukum UMK Sugiman – DPK GMNI Fak.Hukum UHO Iskandar – Komunitas Berfikir Sehat Erik – DPK GMNI FKIP UHO
Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Cabang Kendari mengecam keras atas tindakan pengepungan dan penyerangan Asrama Mahasiswa Papua yang ada di Surabaya yang dilakukan oleh sekelompok organisasi masyarakat (Ormas) dan aparat negara (16/8/2019).
Hal ini disampaikan Bung Abdul Wahab, Ketua DPC GMNI Kendari bahwa tindakan tersebut merupakan sebuah bentuk pelanggaran HAM dan tidak dibenarkan dalam Negara yang menunjung tinggi nilai-nilai hukum dan kemanusiaan.
Bung Abdul Wahab, Ketua DPC GMNI Kendari
“Secara tegas, kami (GMNI Kendari) mengutuk aparat negara yang justru ikut terlibat dalam aksi penyerangan Asrama Mahasiswa Papua di Surabaya, seharusnya sebagai aparat negara mampu memberi rasa nyaman di tengah-tengah masyarakat, bukan sebaliknya menciptakan kegaduhan dan ikut terlibat disana” Kata Abdul Wahab.
Menurutnya,
kekerasan yang dialami mahasiswa mahasiswa Papua di Surabaya sudah menghilangkan jati diri bangsa dan tidak
menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan, padahal slogan dan semboyan Bhineka
Tunggal Ika setiap saat kita selalu dengungkan di bumi pertiwi, Untuk itu, dengan
kemajemukan masyarakat dan bangsanya, seharusnya bisa hidup dengan rasa aman
dan nyaman saling berdampingan sesama anak bangsa Indonesia.
“Tindakan diskriminasi, rasisme dan kekerasan mahasiswa Papua di Surabaya ini menunjukkan bahwa kita sedang dilanda disintegrasi bangsa dan harus mendapat perhatian khusus dari pemerintah kita” Tambahnya.
Maka dari itu, terkait tindakan pengepungan dan penyerangan mahasiswa Papua di Surabaya, DPC GMNI Kendari menyatakan sikap sebagai berikut:
Meminta kepada Pemerintah Pusat (Presiden), Pemerintah Daerah dan aparatur Negara lainnya untuk memastikan serta memberikan rasa aman bagi orang Papua yang berada di wilayahnya.
Meminta kepada Presiden Republik Indonesia (Jokowi) untuk memerintahkan KAPOLRI agar segera mengusut tuntas aktor-aktor dibalik penyerangan Asrama Mahasiswa Papua yang ada di Surabaya.
Meminta kepada KAPOLRI untuk menindak tegas oknum aparat dan ormas yang terlibat dalam aksi kekerasan terhadap 43 orang mahasiswa Papua di Surabaya.
Kekerasan terhadap mahasiswa Papua di Surabaya harus segera diselesaikan agar tidak meluas dan memastikan kekerasan serupa tidak berulang di kemudian hari, bukan hanya terhadap Orang Papua tetapi kepada seluruh Masyarakat Adat di Nusantara.
Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Kendari akan menggelar Rapat Pimpinan Cabang (RAPIMCAB) yang rencananya di laksanakan pada akhir bulan Agustus tahun 2019 ini.
Rapimcab GMNI merupakan forum musyawarah/mufakat tertinggi yang ada di tingkatan Cabang GMNI yang bertujuan untuk mengevaluasi kinerja cabang, memberikan rekomendasi dan masukan saran terkait berbagai kebijakan organisasi selama setengah periode (satu tahun) pasca pelantikan pengurus cabang sesuai panduan keorganisasian di GMNI.
Sebelumnya di Bulan Juli (20/8/2018) kemarin, telah dilakukan proses pergantian ketua cabang melalui tahapan, yakni Konferensi Cabang (KONFERCAB II) DPC GMNI Kendari yang mana di buka secara resmi oleh Ketua Umum DPP GMNI Bung Robaytullah Kusuma Jaya yang bertempat di Aula Asrama Haji, Kendari.
Dalam proses dialektika dan dinamika forum yang panjang, maka Bung Abdul Wahab terpilih menjadi Ketua dan Bung Musrivin sebagai Sekretaris DPC GMNI Kendari periode 2018-2020 yang menggantikan posisi Zulzaman dan Rahmah Raymuna sebagai ketua dan sekretaris DPC GMNI Kendari Periode 2016-2018.
Adapun pelantikan pengurus DPC GMNI Kendari periode 2018-2020 yang gelar di Aula Kanwil Agama Provinsi Sulawesi Tenggara (21/9/2018) secara resmi dilakukan oleh Sekretaris Jenderal DPP GMNI Bung Clance Tedy dengan proses pembacaan sumpah (Ikrar Prasetya Korps Pejuang Pemikir – Pemikir Pejuang) dan serah terima jabatan dari pengurus lama (Zulzaman) ke pengurus yang baru (Abdul Wahab) yang di saksikan secara langsung oleh Alumni GMNI Kendari Bung Irfan Ido dan seluruh peserta dan tamu undangan kegiatan pelantikan tersebut.
Maka untuk melaksanakan kewajiban organisasi tersebut, Selasa kemarin (13/8/2019), DPC GMNI Kendari telah menggelar rapat pembentukan panitia Rapimcab untuk mempersiapkan segala materi dan perlengkapan guna kesuksesan acara tersebut.
Bung Firman Menui dan Bung Rasmin yang di percayakan menjadi Ketua dan Sekretaris Panitia pelaksana Rapimcab DPC GMNI Kendari tahun 2019 berharap kegiatan ini berjalan dengan sukses dengan menghasilkan beberapa keputusan berdasarkan kesepakatan bersama untuk organisasi.
Bung Firman Menui, Ketua Panitia
“Kami, selaku panitia yang dipercayakan untuk menyukseskan kegiatan ini sementara menyiapkan segala sesuatu kebutuhan terkait Rapincab DPC GMNI Kendari, baik menyiapkan tempat, administrasi pemberkasan, palu sidang dan hal-hal lainnya” ungkap Bung Firman.
Menurut Ketua DPC GMNI Kendari, Bung Abdul Wahab Rapimcab kali ini akan dilaksanakan bersamaan dengan perayaan atau Dies Natalis GMNI Kendari yang ke – IV tahun 2019.
“Kegiatan Rapimcab DPC GMNI Kendari kali ini kami akan rangkaikan dengan perayaan ulang tahun GMNI Kendari yang ke empat tahun, karena sesuai mandat SK DPC GMNI Kendari pada tahun 2015 (201-Presidum.GMNI) yang kami pegang, DPC GMNI Kendari resmi terbentuk dan terdaftar sebagai cabang Caretaker (Persiapan) di Presidium GMNI dengan nomor 201, tanggal 26 Agustus 2015 yang ditanda tangani Presidium GMNI Bung Twedy Noviadi Ginting sebagai Ketua dan Bung Bintar Pradipta sebagai Sekretaris Presidium GMNI”. Tutup Bung Abdul Wahab.
Setiap tanggal 17 Agustus kita memperingati hari kemerdekaan Indonesia
dari penjajahan fisik dan mental selama lebih dari 3,5 abad. Sejak 17 Agustus
1945 ketika kemerdekaan diproklamirkan hingga saat ini, usia Negara Kesatuan
Republik Indonesia (NKRI) sudah memasuki 74 tahun.
Agustus menjadi bulan perenungan untuk seluruh komponen rakyat Indonesia,
karena di dalamnya kita kembali bernostalgia tentang bagaimana sejarah panjang perjuangan
para pendahulu dalam merebut dan memerdekakan bangsa Indonesia dari tangan
penjajah kolonialisme dan imprealis yang penuh dengan keringat, air mata bahkan
mempertaruhkan nyawa mereka sendiri.
Maka untuk itu, dalam mengisi kemerdekaan dan melaksanakan cita-cita para pendahulu bangsa, setiap anak bangsa seyogianya dan bahkan wajib menjunjung tinggi nilai-nilai ke kebhinekaan, kemajemukan, serta persatuan dan kesatuan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.
Khusus dari Front Marhaenis Kota Kendari, yang di dalamnya tergabung beberapa organisasi kesiswaan/pelajar, kemahasiswaan dan kepemudaan yang merupakan generasi pelanjut dan penganut ajaran-ajaran Bung Karno, Presiden Pertama Republik Indonesia yakni Gerakan Siswa Nasional Indonesia (GSNI), Gerakan Mahasiswa Indonesia (GMNI), Rumah Literasi Marhaenis (RLM), Gerakan Pemuda Marhaenis (GPM) dan Pemuda Demokrat Indonesia (Pemuda Demokrat) akan melaksanakan kegiatan dialog kebangsaan dalam rangka peringatan HUT RI ke 74 tahun 2019.
Ketua panitia pelaksana kegiatan dialog kebangsaan, Bung Avan mengatakan bahwa diadakannya kegiatan tersebut guna memberikan semangat, motivasi dan dorongan kepada para pelajar dan pemuda khususnya di Kota Kendari tentang bagaimana memaknai arti sesungguhnya dari kemerdekaan itu sendiri, sebagai generasi penerus yang akan melanjutkan kemerdekaan yang telah di raih di masa lalu oleh para tokoh-tokoh pendiri Republik Indonesia merdeka.
Bung Avan, Ketua Panitia
Dalam kegiatan ini, panitia sementara menyiapkan tempat (lokasi) para
narasumber/pemateri dan menyiapkan para peserta dialog kebangsaan.
“Rencananya untuk para pemateri, kami akan mengundang pihak Kepolisian, TNI, dan Pemerintah Daerah dalam hal ini Kesbangpol untuk membawakan materinya. Juga yang terpenting, kami akan mengusahakan dan akan menghadirkan pemateri dari pusat (Jakarta) dalam hal ini, Bapak Dr. Ahmad Basarah yang kapasitasnya sebagai Ketua Umum DPP Persatuan Alumni GMNI sekaligus sebagai Wakil Ketua MPR RI” Ungkap Bung Avan.
Untuk para peserta, kami akan mengundang seluruh komponen siswa dan
mahasiswa se Kota Kendari untuk hadir di kegiatan tersebut.
“Adapun peserta, kami akan mengundang OKP se Kota Kendari baik dari tingkat pelajar/siswa, mahasiswa maupun kepemudaan, karena ini penting kita hadirkan sebagai peserta untuk bisa melakukan sharing pendapat dengan para pemateri terkait isi diskusi kebangsaan nanti” Tambahnya.
Rencananya, kegiatan dialog kebangsan ini akan dilaksanakan pekan depan (Sabtu, 24/8/2019) yang bertempat di Rumah Kopi 41 By Pass, Kota Kendari.